Rame-rame Turun Ke Sungai

Semua diawali dengan niat, sehingga berbondong-bondong pemuda-pemuda itu menyempatkan waktunya untuk menyusuri pematang sungai yang berkelok-kelok terjal. Pemuda-pemuda tersebut beberapa kali juga harus tergelincir dan memasang kuda-kuda ketika beberapa bagian dari pematang sungai mengalami kelongsoran akibat gerusan arus.

Setelah menemukan beberapa titik gundukan sampah yang tidak beraturan, para pemuda itu membuka karungnya. Tidak ingin menghabiskan waktu, maka sampah yang bertumpuk-tumpuk tersebut pelan-pelan berpindah dari tepi sungai ke dalam karung. Hanya sebentar mereka berjibaku, sampai akhirnya 30 karung penuh terisi. Pun tidak lama kemudian, beberapa orang segera datang dan ‘byur’ melemparkan kantong-kantong kresek berisi sampah ke dalam saluran air. Muka mereka penuh tanda tanya, meskipun kebingungan juga dengan aksi yang dilakukan para pemuda tersebut.
Mulung bareng. Mungkin dua kata itu yang paling tepat mendeskripsikan apa yang dilakukan para pemuda di sungai pada pagi itu. Mulung bareng menjadi istilah pengganti dari kata gotong royong membersihkan sampah, karena istilah ini seringkali lebih diterima dan menunjukkan kondisi yang sebenarnya dari aktifitas tersebut. Kegiatan ini mudah, mengumpulkan orang dan uang untuk membeli karung, kemudian mengumpulkan sampah-sampah di badan sungai untuk dibuang ke tempat lain. Meskipun mudah, ternyata untuk melakukan kegiatan serupa secara konsisten bukanlah acara yang remeh-temeh. Setidaknya semangat lah yang harus dipacu terus-menerus mengingat seringkalli beberapa dari pemuda-pemuda tersebut merasa sia-sia ketika gundukan sampah tersebut seolah-olah tidak pernah habis; dibersihkan di satu titik namun muncul lagi di titik lain.

Patut juga kita acungi jempol bagi pemuda-pemuda yang menamakan dirinya laskar penjaga sungai, apapun nama organisasi dan kelembagaannya. Mereka rame-rame turun ke sungai menciptakan sebuah pencitraan bahwa harus ada elemen masyarakat yang bersedia berbagi tanggung jawab dalam memelihara kebersihan dan kelestarian sungai dan ekosistem perairan.

Rame-rame turun ke sungai memanglah cara yang tepat dalam mewujudkan apa yang disebut sebagai pengelolaan sumber daya air yang partisipatif dan berkesinambungan. Sumber daya air, baik itu air permukaan ataupun air tanah, merupakan barang publik (public goods). Artinya, semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam memanfaatkan sumber daya air dan tidak ada yang bisa menyatakan klaim mutlak atas kepemilikannya. Sebagai barang publik, maka semua individu dapat mengklaim haknya atas penggunaan air. Akan tetapi permasalahan muncul ketika hak dan kewajiban atas penggunaan air tidak ditempatkan secara setara. Ketika semua individu dapat mengklaim haknya, terkadang individu-individu tersebut tidak melekati diri mereka dengan kewajiban. Sehingga yang muncul belakangan adalah kerusakan terhadap barang publik itu ketika tidak ada pihak yang melaksanakan kewajibannya.

Dalam konteks sumber daya air, khususnya sungai, orang dapat beramai-ramai mengklaim bahwa sungai merupakan wilayah publik dimana semua pihak dapat mengaksesnya, baik itu untuk keperluan mandi, air minum, memancing, budidaya ikan, rekreasi, mencari pasir dan bahan bangunan, bahkan membuang sampah. Walau demikian, ketika berbicara mengenai tanggung jawab seperti misalnya siapa yang sebenarnya bertanggung jawab untuk menjaga kebersihan sungai, siapa yang seharusnya melakukan penghijauan di bantaran sungai, rame-rame juga orang saling menujuk.

Tidak dapat dipungkiri pula bahwa pemerintah memegang peranan vital untuk tidak sekedar menjadi penonton dalam perebutan klaim atas hak dan kewajiban atas pengelolaan sumber daya air. Pemerintah harus menjadi wasit dan juga leading agent yang berada di depan untuk membuat keputusan-keputusan vital mengenai aturan main dalam pengelolaan sumber daya air.

Dalam hal ini pemerintah sudah banyak bertindak. Khusus untuk pengelolaan sungai, misalnya, PROKASIH (Program Kali Bersih) yang dicanangkan sejak tahun 1995 telah memberikan batasan dan aturan yang jelas untuk meningkatkan kualitas air sungai, yang ditandai dengan terpenuhinya baku mutu air sesuai dengan peruntukkannya. PROKASIH ini pula lah yang menjadi awal yang besar bagi sebuah pengelolaan sungai yang melibatkan masyarakat.
Selain PROKASIH, Undang-Undang Sumber Daya Air tahun 2004 dengan tegas juga menjelaskan hal tersebut.

Partisipasi atau keterlibatan publik dalam menjaga sungai memang sudah mulai bermunculan, biasanya digawangi oleh Lembaga Sosial Masyarakat, Badan atau instansi pemerintah yang terkait, dan universitas. Rame-rame mereka turun ke sungai dengan berbagai macam program dan kegiatan, termasuk diantaranya mulung sampah.
Tidak dapat dipungkiri, mulung yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat yang dilakukan secara sporadis mungkin tidak bisa membawa perubahan yang besar. Namun kegiatan kecil seperti ini seolah-olah meniupkan nafas kesadaran baru bahwa sungai adalah barang publik, maka publik lah yang harus dilekati oleh hak dan tanggung-jawab yang sama dalam pengelolaan dan khususnya mengalihkan sampah dari badan sungai ke tempat yang semestinya.

Jika berbicara mengenai sampah, maka persoalan yang dibicarakan bisa sangat melebar. Bukan hanya membicarakan kesediaan beberapa elemen publik untuk membersihkan badan sungai dari gundukan sampah, tapi juga membicarakan publik yang ‘terpaksa’ membuang sampahnya ke badan sungai. Ada pertempuran budaya yang terjadi pada ranah ini, yaitu antara budaya membuang sampah ke sungai dan budaya membersihkan sampah di sungai. Bukan orangnya yang bertempur, tapi budayanya, sosial-ekonominya, level kesadarannya, dan lain-lainnya.

Bahkan pernah diceritakan oleh teman-teman pemulung dadakan seperti ini. Suatu ketika mereka sedang memulung, dan tiba-tiba ‘byur’ seorang perempuan muda tanpa menghiraukan kehadiran teman-teman pemulung dadakan melemparkan bungkusan plastik hitam yang ternyata berisi telur-telur yang sudah membusuk. Lalu apa yang dilakukan teman-teman merespon hal tersebut? Dengan santai mereka memasukkan plastik tersebut ke dalam karung, seolah mengirim sinyal bahwa hal positif telah terjadi diam-diam di dalam benak perempuan muda tersebut. Kalau perlu, suatu saat perempuan muda itu diundang mulung juga. Semoga. Selamat bergerak teman-teman pemulung! Nguri-uri sumber ing gesang!

Iklan

4 thoughts on “Rame-rame Turun Ke Sungai

  1. Physically, i am doing my least in this enviromental problem (but i try to be aware with every problem around).
    Salut for Laskar WFK with your hardest effort to be an inspirator and promotor for raising everyone’s environmental aware.

    jika ada agenda lagi, kapan2 sy ikut turun. 🙂

  2. senang mendengar teman2 di UIN mulai posting ‘mulung sungai’. semoga komunitas mulung sungai semakin bertambah banyak dan sungai kita semakin bersih. karena ada banya orang yg sadar soal sungai dan barang publik.

    kapan lagi ada jadwal mulung sungai?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s