KARST yang “Penting” KARST yang “Genting”

oioi

Picture by Google

         Minggu, 31 Juli 2016. Perwakilan KS WaterForum diundang untuk mengikuti seminar Konservasi dari Belantara Indonesia (BI) mengenai Pentingnya Menjaga Kawasan Karst. Seminar yang digelar di aula hotel Surya Andesa tersebut diikuti oleh para mapala-mapala dan komunitas pemerhati lingkungan dari Solo Raya hingga Yogyakarta.
Acara tersebut diawali dengan pemaparan pengertian kawasan Karst oleh mas Agil selaku ketua BI devisi Konservasi. Menurut beliau “Kawasan Karst adalah kawasan yang memiliki pola hidrologi khas yang terbentuk dari batuan yang memiliki tingkat kelarutan yang tinggi (batu gamping) serta porositas sekunder yang berkembang dengan baik”.
          Menurut Mangin (1973) fungsi dari karst intinya adalah tempat akuifer air. Ketika air hujan turun mengguyur daratan karts air akan turun langsung ke bawah menuju zona air kemudian mengalir menuju titik-titik keluaran sehingga menjadi mata air. Hal tersebut menyebabkan kawasan karst kaya akan goa-goa yang tersembunyi didalamnya. Kawasan karst yang merupakan tempat penampungan air hujan menyebabkan kawasan karst juga berperan sebagai kawasan pengendali banjir. Sehingga kawasan karst yang dikeruk bagian atas atau bagian epikarst dapat menyebabkan air tidak dapat diserap dan dapat menyebabkan banjir jika air tak ada yang menampung. Menurut para ahli geologi, kawasan karst merupakan Laboratorium Alam” yang penting keberadaanya untuk kajian arkeologi. Contohnya kawasan karst di daerah Flores terdapat goa Liang Bua yang ditemukan fosil Manusia Kerdil (Hobbit) dan itu adalah penemuan yang sangat penting dan menggemparkan dunia.
Namun kawasan karst yang mengandung material yang bernilai tinggi (gamping untuk bahan baku semen), menyebabkan pengerusakan ekosistem kawasan ini terelakan lagi. Semakin tinggi tingkat pembanguna menyebabkan semakin tinggi tingkat pengrusakan kawasan karst. Banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya kawasan ini melakukan perlawanan terhadap para investor-investor tambang yang ingin mengeruk kekayaan alamnya tanpa memperdulikan dampak ekologi terhadap masyarakat sekitar. Salah satu contohnya adalah masyarakat suku Samin di pegunungan Kendeng yang sampai saat ini masih terus berjuang mempertahankan alamnya. Seminar tersebut sebenarnya mengajak kita para kaum cendekiawan agar ikut memperjuangkan alam kita yang vital agar tetap lestari dan berfungsi secara semestinya. So…. kita yang setiap dijejeli ilmu baru agar lebih mengenal alam kalah sama suku Samin yang hanya berpatokan tentang ilmu nenek moyang. Come on moving on…!!!

Author by Bimo Pur

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s