Blusukan Ke Hulu Gadjah Wong dan Code


Blusukan anggota kelompok studi Waterforum Kalijogo UIN Sunan Kalijaga Yogayakarta dalam mengisi waktu, disela-sela kesibukan di dunia akademik. kegiatan ini bertajuk WFK reseach project 2016. dilaksanakan pada tanggal 13 dan 14 Februari 2016.wfk

WFK research Project 2016, merupakan suatu program penelitian kualitas sungai di Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode Biomonitoring. Lokasi yang dijadikan sebagai fokus pengambilan data ada di wilayah hulu dua sungai, yaitu Gadjah wong dan Code. Hasil akhir yang ingin dicapai yaitu mengetahui sejauh mana kulitas air yang ada di dua sungai tersebut.

Kegiatan memonitoring kualitas air di sungai Gadjah Wong dan Code perlu dilakukan. Karena, kedua sungai tersebut mempunyai nilai yang sangat penting bagi kehidupan, baik kehidupan manusia maupun makhluk hidup lainya. Seperti digunakan sebagai sumber air untuk di manfaatkan.wfk1

Biomonitoring merupakan kegiatan menilik atau memantau kualitas air di suatu ekosistem perairan, dengan menggunakan makhluk hidup sebagai indikatornya. Metode ini dapat menjadi suatu alternatif untuk menentukan status perairan sudah terjadi pencemaran atau belum. Biasanya indikator yang digunakan adalah makrozobentos.

Pengambilan sampel dilakukan selama 2 hari yaitu Sabtu dan Minggu dengan membagi masing-masing sungai menjadi 3 stasiun. Di masing-masing stasiun ada tiga titik lokasi yang harus diambil datanya. Di sungai Gadjah wong, 3 stasiun meliputi : Harjobinangun, Umbulmartani, dan Hargobinangun semua desa tersebut berada di wilayah Kabupaten Sleman.

Data yang diambil adalah makrozobentos dimana  pada penelitian ini, dispesifikasikan hanya anggota ordo Plecoptera. Kemudian sebagai data pendukung diambil pula parameter lingkungan meliputi suhu air, kedalaman sungai, kecepatan arus, pH, dan Disolve Oxigen (DO).

Hasil penelitian ini, nantinya akan dijadikan sebagai database kualitas kedua sungai tersebut. Hal ini akan penting artinya sebagai titik awal untuk melakukan konservasi dan restorasi sungai Gadjah Wong dan Code. Pemetaan yang semakin lengkap tentang status di tiap wilayah mulai dari hulu, tengah, hingga hilir dapat menjadi data untuk menganalisis faktor masukan dari luar sungai, yang menyebabkan pencemaran.

Mengapa indikator yang digunakan adalah makrozobentos? Karena kelompok hewan ini mempunyai keunggulan yaitu: jumlahnya banyak, hidup di dasar perairan, masing-masing jenis mempunyai tingkat toleransi yang berbeda-beda terhadap pencemaran, menetap atau tidak mudah berpindah tempat. Dengan begitu, kita dapat menentukan adanya pencemaran atau tidak, didasarkan dari jumlah spesies yang dapat hidup atau bertahan. Karena masing-masing spesies mempunyai tingkat toleransi terhadap pencemaran yang berbeda, maka apabila yang bertahan adalah spesies toleran terhadap pencemaran, dan spesies yang sensitif sedikit maka dapat disimpulkan perairan di wilayah tersebut sudah tercemar.

Identifikasi jenis mekrozobentos, dilakukan hingga tingkatan takson famili.

Penggolongan status sungai dapat ditentukan dengan suatupenghitungan yang sudah ada. Kemudian di sesuaikan dengan indeks yang ada. Masing-masing kelompok makrozobentos sudah ditentukan nilai toleransinya, sehingga dapat dimasukan kedalam suatu formula khusus untuk menghitung nilai yang natinya dapat diketahui niali total. Berdasarkan daya tahan terhadap pencemaran air dibagi menjadi 4 kelompok. Yaitu grup A skor 4, Grup B skor 3, Grup C skor 2, dan Grup D skor 1. Nilai total tersebut di sesuaikan dengan indeks pencemaran air yang sudah ada.

Ditulis Oleh:

M. Nur Z

WFK Hadiri Sarasehan “Forum Jogja Peduli”


Kelompok studi Water Forum Kalijogo (WFK) yang berkecimpung dalam bidang lingkungan ikut berpartisipasi dalam acara silaturahmi komunitas yang diadakan oleh FJP (Forum Jogja Peduli). Acara tersebut diselenggarakan pada tanggal 21 Agustus 2015 di Edu Hostel Jogja sejak pukul 18.30 hingga pukul 22.00 WIB. Lebih dari 130 orang dari 120 komunitas sosial yang ada di kota Jogja hadir dalam acara tersebut. Sedangkan WFK diwakili oleh tiga anggotanya, yaitu Lyla, Rouf, dan Yusuf. Dalam acara tersebut selain acara silaturahmi antar komunitas juga membahas tentang peran FJP untuk komunitas-komunitas sosial tersebut. Dalam acara pembahasan peran FJP, seluruh komunitas yang hadir dibagi menjadi kelompok kecil dengan 11 komunitas dalam satu kelompok, dan tiap komunitas diwakili oleh satu orang anggotanya untuk bermusyawarah. Untuk sesi acara tersebut WFK diwakili oleh Yusuf. WFK berada di kelompok 2 bersama dengan Kemangteer, BloodForother, CAMP Fondation, Jogja Parkour, Levitasi Hore, dan 5 komunitas lainya. Hasil dari musyawarah tentang peran FJP, kelompok 2 berpendapat bahwa FJP berberan bukan layaknya komunitas melainkan wadah untuk saling berinteraksi antar komunitas sosial. Acara silaturahmi komunitas tersebut pun diakhiri dengan teriakan “Jogja Istimewa” oleh seluruh komunitas yang hadir secara bersama-sama.

Oleh: M. Yusuf (Anggota WFK Angkatan III)

“ Capung sang Pahlawan Lingkungan ”


Serangga (Kelas Insekta) merupakan anggota Kingdom Animalia yang mempunyai jumlah paling banyak dibanding kelompok lain, jumlah mereka di bumi sekitar 80 % dari semua jenis hewan yang ada (Sastrodihardjo, 1979). Salah satu ordo yang terdapat dalam kelas serangga adalah Odonata atau oleh orang Indonesia dikenal dengan nama “capung” (Indonesia), Papatong (Sunda), Kinjeng (Jawa). Baca lebih lanjut